Pola Asuh Helikopter

Pola Asuh Helikopter, Apa Itu dan Bagaimana Dampaknya untuk Anak?

Apa Anda sering mengerjakan tugas anak hanya karena ingin membiarkan anak beristirahat atau takut ia salah jawab? Atau, mungkin Anda lah yang selalu membereskan perlengkapan anak sebelum ia berangkat sekolah agar tidak ada yang tertinggal? Kalau sudah begini, Anda mungkin tengah menerapkan pola asuh helikopter. Apa Itu?

Apa Itu?

Helicopter parenting sebenarnya merujuk pada gaya pengasuhan orang tua yang terlalu fokus atau over protective terhadap anak. Biasanya, orang tua tipe ini akan selalu memegang kendali penuh terhadap kehidupan anaknya, termasuk soal keinginan dan keputusan yang seharusnya bisa diputuskan anak sendiri.

Itulah sebabnya mengapa gaya pengasuhan ini disebut juga dengan pola asuh helikopter. Sebab, layaknya helikopter yang terbang di udara, ia cenderung berputar-putar mengitari anaknya alias terlalu protektif.

Ciri-Ciri Helicopter Parenting

Pola Asuh Helikopter

1. Selalu Menjaga Ketat Anaknya Saat Bermain

Salah satu ciri dari pola asuh ini adalah orang tua akan selalu menjaga ketat anaknya tatkala sedang bermain di usia anak yang masih balita. Orang tua akan terlalu ketat menjaga anaknya bahkan tidak membiarkannya disentuh orang lain, tidak membiarkannya bermain dengan hal baru, terlalu takut anak terluka dan masih banyak lagi.

2. Membuat Keputusan untuk Anak

Jika anak sudah mulai sekolah, orang tua akan selalu membuat keputusan untuk anaknya. Padahal, di usia ini anak biasanya sudah bisa memiliki pendapat sendiri dan orang tua ada baiknya mempertimbangkan pendapat yang diutarakan anak. Misalnya saja, orang tua akan mendaftarkan anak ke kursus atau kegiatan yang belum tentu disukai anaknya.

Selain itu, orang tua juga akan bertindak mengatur dengan siapa saja anak boleh bermain. Orang tua bahkan juga akan mengatur segala kegiatan anak mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi.

3. Ikut Campur Urusan Anak

Ciri lain dari pola asuh yang satu ini adalah orang tua cenderung akan selalu ikut campur dengan urusan anak. Misalnya saja, orang tua akan menghampiri dan memarahi teman anak tatkala ia berkelahi dengan buah hatinya. Bahkan kadang, ia sengaja menghubungi orang tua anak tersebut untuk memaksa temannya meminta maaf.

Padahal, belum tentu dalam masalah ini teman anaknya yang salah. Pada contoh kasus lain, orang tua akan mendatangi guru dan bernegosiasi agar anak bisa diikutsertakan dalam perlombaan, padahal sebelumnya anak tersebut sudah dinyatakan tidak lolos seleksi.

4. Mengikuti ke Manapun Anak Pergi

Salah satu ciri dari pola asuh helikopter adalah orang tua akan selalu mengikuti ke manapun anak pergi. Orang tua akan selalu berusaha untuk ikut di tiap kegiatan yang anaknya ikuti semisal latihan futsal, ikut dalam latihan kelompok atau bahkan diam-diam menyelinap ke sekolah hanya untuk memperhatikan anaknya berinteraksi dengan siapa saja.

5. Merasakan Khawatir yang Berlebihan

Ciri lain dari pola asuh ini adalah orang tua terlalu merasa khawatir dalam mengurus si anak. Misalnya saja, anak tak boleh bermain di luar karena alasan takut jatuh atau tidak membiarkan anak makan sendiri atau mandi sendiri.

Apa Efek Pola Asuh Helikopter pada Anak?

1. Anak Menjadi Manja

Mungkin orang tua tak sadar akan apa yang dilakukannya. Padahal, dengan menerapkan pola asuh ini, ada banyak efek buruk yang bisa menimpa anak. Salah satunya, anak akan menjadi manja. Kecenderungan orang tua dalam membantu setiap masalah yang dihadapi anak membuatnya lambat laun menjadi pribadi yang manja dan malas berusaha.

Anak akan dengan mudah beranggapan bahwa orang tuanya pasti akan membantunya. Kalau sudah begini, anak tidak akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri hingga terus bergantung dengan bantuan orang lain.

2. Menurunkan Rasa Percaya Diri Anak

Efek lain yang bisa ditimbulkan karena masalah ini adalah anak bisa turun percaya dirinya. Intervensi orang tua yang terus menerus dapat membuat anak berpikir bahwa ia tidak dipercaya dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. Hal inilah yang memicu anak tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup.

3. Kecemasan Anak Meningkat

Masalah lain yang bisa ditimbulkan karena pola asuh ini adalah anak memiliki kecemasan yang tinggi. Sejumlah penelitian bahkan sudah membuktikan hal ini. Anak yang memiliki orang tua terlalu protektif menyebabkan kestabilan emosinya tak baik dan ini bisa membuat anak berperilaku menyimpang. Hal inilah yang memicu tingkat depresi dan kecemasan anak.

4. Lifestyle yang Tak Berekmbang

Jika orang tua selalu membantu masalah yang dimiliki anak bahkan untuk masalah yang sangat kecil sekalipun, itu akan membuat anak tak berkembang. Terlebih bila orang tua membatasi kesempatan anak untuk belajar sesuatu yang baru. Contoh sederhananya saja, selalu bantu anak mengikat sepatu sehingga ia kesulitan ketika harus mengenakan sendiri.

Cara Berhenti Menjadi Orang Tua yang Menerapkan Pola Asuh Helikopter

1. Redam Rasa Khawatir yang Berlebihan

Tentunya, Anda tak menginginkan hal ini berlaku pada anak Anda, kan? Namun, bila Anda sudah terlanjur melakukannya, Anda bisa melakukan beberapa hal untuk menghentikan pola asuh ini. Salah satunya adalah dengan meredam rasa khawatir yang berlebihan.

Kebanyakan orang tua menyesali apa yang dilakukannya pada masa lalu dan tak ingin itu terjadi pada anaknya. Rasa bersalah itulah yang pada akhirnya menimbulkan kecemasan yang berlebihan saat mengasuh anak. Kecenderungan orang tua melarang dan membatasi gerak anak membuat anak jadi tak berkembang hanya karena rasa cemas itu.

2. Berhenti Selalu Membantu Anak

Hal lain yang bisa Anda lakukan untuk menghentikan ini adalah dengan tidak selalu membantu anak menyelesaikan suatu persoalan. Jika ia mengalami kegagalan, percayalah suatu saat ia akan berhasil dengan caranya sendiri. Jika orang tua selalu membantunya, ia tak akan dapat belajar dari kegagalan yang telah dilakukan.

Anak juga akan terus bergantung pada orang tuanya. Tenang, bukan berarti Anda harus lepas tangan terhadap anak. Anda cukup mengganti kata membantu dengan mengamati karena dengan begini, Anda tetap memiliki ruang gerak padanya tanpa harus meninggalkan ia sendirian saat mengalami kesulitan.

3. Hargai Usaha dan Keputusan Anak

Hal lain yang bisa Anda lakukan untuk menghentikan ini adalah dengan menghargai semua keputusan dan usaha anak. Tumbuhkan rasa percaya dirinya dalam mengambil semua keputusan yang ia ambil. Tak perlu dibantu apalagi di komentari, Anda hanya perlu meyakini agar anak bisa menjalani apa yang sudah dipilihnya.

Jika pada akhirnya keputusan yang anak Anda ambil salah, jangan pernah menyalahkan apalagi memarahinya. Akan lebih baik, Anda menanyakan bagaimana perasaannya dan terus semangati ia untuk terus berusaha di lain kesempatan.

Pola asuh helikopter memang memiliki dampak yang cukup buruk pada anak. Namun, nyatanya hal tersebut sangat marak terjadi akhir-akhir ini. Anda sebagai orang tua tentunya tak ingin menerapkan ini pada buah hati Anda, kan? Buanglah pikiran untuk menerapkannya karena hanya akan membuat anak susah di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *